![]() |
| Serius: Dari kiri Alvian, Sinta dan Yogie saat memberikan materi di diskusi kepemudaan |
Aditya Yogie, Alvian dan Sinta Dewi membawakan
materi pertama yakni diskusi kepemudaan. Hal tersebut menjadi penting mengingat
IPNU IPPNU adalah sebuah organisasi kepemudaan dan pelajar dibawah naungan Nahdlatul Ulama. Pada
sesi materi tersebut para pemateri mengajak sekitar 50 pelajar yang mengikuti
forum untuk tidak hanya fokus dalam belajar di sekolah saja.
“Sekolah adalah salah satu tempat penting kita
untuk mencari ilmu yang sifatnya umum. Namun, jangan lupa bahwa kita juga harus
meningkatkan ilmu agama kita dengan ikut mengaji di TPQ, Madin, Pesantren”,
cetus Sinta.
Diskusi panel tersebut juga menjadi forum yang
menarik karena pemateri memberikan pandangan berbeda sehingga memperkaya
diskusi malam itu. Hal demikian seperti yang disampaikan oleh Alvian.
“Pemuda sekarang telah menghadapi era globalisasi
yang sedemikan rupa. Apa yang baik dari globalisasi mari kita gunakan
sebaik-baiknya”, pungkas Koordinator Bidang Organisasi IPNU Sumberpucung
Lebih jauh lagi Mahasiswa Strata-1 Jurusan Hukum
UNIKAMA menyatakan hal senada dengan Sinta.
“Kita juga harus membentengi diri kita dari pengaruh buruk globalisasi. Bagaimana
caranya?”, tanya Alvian kepada peserta.
“Salah satu caranya adalah dengan mengikuti
kegiatan-kegiatan positif, seperti di IPNU IPPNU. Disini kita diajari
berorganisasi, melatih kemampuan soft
skill, kepemimpinan dan lain sebagainya. Yang terpenting dan paling penting
adalah tetap terus diajak mengaji dan belajar”, lanjut Alvian.
Sedangkan Yogie memberikan pandangannya tentang
kepemimpinan seperti motivasi yang diberikan. “Pemuda adalah pemimpin masa
depan”, seru Wakil Ketua II IPNU Sumberpucung.
Seusai istirahat shalat Isya, peserta kembali
mengikuti kegiatan menarik lainnya. Kali ini, Muhammad Anis Yahya, Ketua IPNU
Kecamatan Donomulyo mengajak peserta menyaksikan dan membedah film Sang Kyai. Seperti diketahui, film
tersebut menceritakan tentang perjuangan para ulama di bawah komando Hadaratus
Syeikh KH. Hasyim Asy’ari ketika melawan penjajah.
Sekolah 3B edisi pertama itu direspon antusias oleh
seluruh peserta yang ikut, tak terkecuali para pengurus IPNU IPPNU
Sumberpucung. Harapan dari seluruh anggota adalah bisa melaksakan kegiatan
rutin semacam ini dengan berbagai materi dan forum yang berbeda, meminjam
istilah umum “Serupa Tapi Tak Sama”. (cha)

0 komentar:
Posting Komentar