![]() |
| Ilustrasi |
Dengan
gemetaran dia melihat tumpukan mayat teman,saudara,dan tetangga di
pemukimannya. Sambil mengumpulkan kebaranian dia mulai mendekat ke tumpukan mayat.
Kaki Ayga yang sedari tadi menopang tubuhnya tiba – tiba langsung lemas seperti
tak bertulang. Tepat dihadapan mayat ibu dan ayahnya dia terduduk , air mata
yang tadi dia coba tahan sudah tak kuat lagi membendung kepedihan yang
dideritanya. Deras air hujan kala itu kalah dengan derasnya air mata Ayga, rasa
sedih dan marah ia coba tahan sekuat mungkin.Dengan lirih Ayga berkata pada
dirinya sendiri “ Aku berjanji akan menjadi seorang yang kuat….”
Ayga
mencoba untuk berdiri sambil melihat disekitar tumupukan mayat. “ Ayo cepat
segera ledakkan tempat kumuh ini” terdengar suara pria dari
kejauhan,mengejutkan Ayga yang masih sedih melihat orang – orang yang
disayanginya terbunuh dengan sadis. Dengan tergesa-gesa Ayga lari menuju rumah
tetua pemukimannya, dia masih ingat pesan tetuanya”Kalian semua adalah pewaris
dari tanah ini, kotak yang ku pegang ini berisi sesuatu yang berguna bagi
kalian kelak. Kalian boleh membuka kotak ini dengan seizinku, karna kalian
adalah pemuda – pemuda yang hebat , termasuk kau Ayga”. Dia mencari – cari
dimana tetua menyimpan kotak itu, dengan rasa sedih,marah, bercampur dalam
hatinya. Langkah kaki Ayga terhenti ketika ia melihat sebuah pintu kamar.
Dengan berhati – hati dia mulai menggerakkan pintu kamar
di dalam rumah tetua. Di dekat tempat tidur tetua dia temukan selembar kertas
diatas kotak yang dia cari – cari,
selang beberapa detik terdengar suara lagi “Hei, kau cepat pasang peledak itu
aku ingin tempat ini segera rata dengan tanah”. Ayga langsung mengambil secarik
kertas dan kotak rahasia milik tetua dan keluar dari rumah tetua lewat jendela
di sebelah kamar. Kaki yang tadinya lemas Ia paksa untuk berlari secepat
mungkin menuju hutan. Sambil meletakkan kotak
di bawah pohon di pinggir hutan dan memasukkan kertas di kantongnya dia
melompat ,menggapai dahan pohon.Digenggamnya erat – erat dahan pohon dengan
tangan kirinya, dia mulai melihat pemukimannya dari pinggiran hutan.
“Ddaaarrrr…..” rumah – rumah di pemukiman yang tadinya sedikit menjulang ke
atas karna atapnya yang mengerucut langsung rata dengan tanah.Disusul dengan
sekelompok orang yang berbondong – bondong menuju pemukiman sambil berteriak
kegirangan. Sambil menenteng senjata api seseorang dari mereka mulai menghisap
rokok cerutunya, “Tuan misi ini telah
kami lakukan sesuai dengan keinginan anda” katanya sambil menghisap rokoknya
lagi. Bosnya dengan tersenyum menjawab“Bagus, seharusnya sudah dari dulu aku
racuni mereka kemudian aku bunuh mereka dengan ini” sambil memegang senjata api
dengan jenis ak47.
Ayga yang mengawasi dari pinggirian hutan ternyata masih
bisa mendengar samar – samar perbincangan tersebut, hujan deras yang menemani
peristiwa tragis Ayga mulai menghilang. Matahari mulai menampakkan warna oranyenya yang memberikan tanda bahwa
malam akan segera datang. “tskk..” terdengar suara di semak dekat tempat Ayga
menaruh kotak.
Tatapan mata yang tadinya masih bercampur dengan air mata
berubah menjadi tajam menusuk melihat semak – semak. Ia pun melompat dan
melemparkan belati yang ada di disakunya. “Ssskkk” suara yang menandakan bahwa
belati lemparan Ayga tepat sasaran. Dengan berhati – hati Ayga memnyibak semak
– semak.”Sial,ternyata hanya ular” sambil mengambil belati yang tepat menancap
di kepala ular. Ayga yang masih bingung bagamiana meneruskan hidupnya mengambil
kotak mandat dari tetuanya dan mengambil ular yang tadi dia bunuh sambil
berkata “ setidaknya untuk sekarang aku akan mencoba bertahan hidup”. Ayga
mulai berjalan masuk kedalam hutan yang dipenuhi dengan hewan buas.
“Crass…”
suara percikan api buatan Ayga mulai membara ditumpukan kayu yang dibalik gelap
dan dinginnya hutan. Ayga mulai merogoh kantong dan mengambil secarik kertas
yang belum sempat Ia baca. “Ayga, kami tahu kau akan selamat karna kau adalah
pemuda yang pemberani. Di dalam kotak itu berisi senjata,pakaian dan beberapa
emas yang sengaja kami kumpulkan agar kau bisa bertahan hidup dan
memperjuangkan keadilan didunia ini. Belajarlah menggunakan senjata turun
temurun yang ada di dalam kotak itu. Tertanda tetua.”
Oleh Aditya Yogie S.
Wakil Ketua II PAC IPNU Sumberpucung
Oleh Aditya Yogie S.
Wakil Ketua II PAC IPNU Sumberpucung




